Jumat, 20 November 2009

tebelin yang lu banget..

Copy Paste dari blognya meyuy

You like showers better than bubble baths.
*biar cepet*
You cannot stand pop music.
You have a sister. *tentunya, makanya rumah gw rame*
You are an only child.
You have black hair.
You have blonde hair.
You have red hair.
You have glasses. *i WEAR it*
You wear contacts.
You like TV more than movies.
You don’t talk on the phone often.
You like to shop.
You like emo music. *yang mau ngetawain, silakaannn. gw mah ga peduli daaaa..*
You are tall.
You are short.
You are average height. *cenderung beke sih, tapi nggamau ngaku ah*
You have long hair.
You have medium length hair.
You have short hair.
You use AIM.
You use Yahoo IM.
You have more than 3 pets.
You like sushi.
You love sushi.
You are on a diet.
You are currently on the second floor of your house.
You have a small room.
You are in high school.
You have 1 little brother. *yang songong tapi jagoan*
You have an older brother.
You are allergic to something.
You have a boyfriend/girlfriend.
You have a current crush.
*his name is Wichu*
You have many crushes.
You have been kissed. *di pipi dan di jidat, sama mamam pas wisuda*
You have kissed another girl.
You laugh a lot. *terutama kl nonton TV One pagi-pagi*
You have lots of friends. *yeah!!*
You are lonely.
*sometimes, temen2 gw lg ga disini sih..*
You are depressed.
You are listening to music.
You are doing homework.
You have school tomorrow.
You are sick.
You hate your teacher.
You think your teacher is OK.
There is drama in your school, constantly.
You are wearing sweat pants.
You are wearing socks.
You are wearing a T-shirt.
You have lost a loved one. *Atashi no taiyou, heuheu*
You hate your school.
You loved your school.
You have been picked on.
You have been yelled at. *oleh geng cewe2 mehe di masa SMA*
You have gotten in a fight. *sometimes, lah, life is a fight gitu loh*
You have said a bad word. *kelepasan, ngga juga sih ya...;p*

You shop at Abercrombie and Fitch.
You play basketball.
You play softball.
You play baseball.
You play soccer.
You play football.
You hate sports. *aduh, aku ini wanita lemah...*
You get manicures.

You shop at Pac Sun.
You go to the mall a lot.
You are close with your family. *ampe dempet2an kl tidur*
You never fight with your parents.
You have been grounded.
You have driven a car.
You are listening to your iPod.
You are watching TV.
You are watching a movie.
You are listening to the radio.
You are singing.
You are happy.
You are sad.
You are blah.
You are anxious. *iya, kalo lagi deadline*
You are about to go somewhere.
*next stop : NARA*
You haven’t been out of your house for over 3 days.
Someone besides you is in the same room with you. *siapa coba...*
You love your natural hair. *kekekeke, gada duit buat rebonding*
You hate your eye color.
You wish you were never been born.
You write your own songs. *and there were 7 albums*
You write books. *i got two, and counting*
You hate to write.
You hate your hometown.
You love your hometown.
*siapa yang ga suka Banduuunggg????*
You are smart.
You are average. *yah begitulah...si lemot luar biasa ini*
You are dumb.
You get good grades. *alhamdulillah, lemot2 lucky juga*
You enjoy having people at your house. *apalagi gw masakin, pulangnya sakit perut semua >:)*
You love going to the movies with a lot of people.
You like to go bowling with your friends. *sebenernya, go anything with my friends*
You have ice-skated before.
You like popsicles.
You think Vanilla is better than Chocolate.
*Man, Chocolate is the best ice cream ever, apalagi makannya di Milan, di taman deket gerejanya, dan....hehehehe ;p*



sumpah, ini bukannya ga ada kerjaan, cuma lagi lari aja dari kerjaan hehehehe....

Senin, 16 November 2009

you jump i..... 'll catch you aja deh.

Masya Allah
Dua minggu ini amazing. Semua ini berawal dari momen dua minggu lalu saat sahabat gw yang sekaligus bos gw memutuskan untuk menjadi anggota panitia sebuah acara pelatihan di luar kota. Mulanya gw santai saja, toh di kantor masih tersisa satu sahabat lain yang biasa menjadi tangan kanan dan kaki kiri si bos, sehingga harusnya...semua pekerjaan kantor akan dibagi berdua. Rupanya si bos tak ingin sahabat kami ini kehilangan kesempatan pelatihan yang konon akan berfaedah besar buat mereka, maka diajaklah si teman ini ke Cikampek juga. Oh, My God. Empat proyek harus gw tangani sendirian, tiga kerjaan kantor, satu kerjaan pribadi. Alhamdulillah datanglah Luna si tendangan bayangan buat bantu-bantu gw mengurusi pekerjaan yang ditinggal bos seminggu.

Atuhlah,
kantor ini isinya cuma tiga orang,
kalo pergi dua, satunya kesian atuhlah....

Maka ketar-ketirlah gw ketika malam sebelum keberangkatan mereka mengontak gw untuk datang ke kantor sore-sore. Briefing ceritanya. Dan terkejutlah gw mendapati fakta bahwa jumat pada minggu itu, dua proyek harus dilaporkan progressnya, dokumen harus dikirimkan kepada si empunya. Panik? Gw diem aja sih, iya-iya aja. Khawatir mereka jadi khawatir karena gw terlihat khawatir. Alhamdulillah, terlalui pula itu satu minggu penuh kegilaan mengerjakan semuanya sendirian dengan baik, setidaknya gw ngga ngutang kerjaan karena empat2nya beres di akhir minggu. We're super, Na. Hahaha.

Minggu selanjutnya, yang baru saja berlalu sekitar enam jam lalu, ngga kalah seru. Setelah empat proyek yang gw selesaikan, masih ada sisa empat proyek lain yang juga harus ditangani. OK. Kantor full team. Apa daya, sama aja ternyata. Nyaris tiap hari 10 jam di kantor. Ditambah lagi ilustrasi yang tengah mendekati tenggat, atasan gw dan editornya udah bawel banget nagih2 gambar sementara gw juga jadi 'Project manager', capeeeeeee banget.

Pada minggu itu pula, gw berkesempatan momotoran sampe Burangrang, satu setengah jam dari Cimahi untuk survey proyek baru. Dalam kondisi jalan naik turun, kiri jurang kanan tebing, licin dan becek abis ujan, si bos --yang gw tumpangi boncengannya-- dengan sedikit geumpeur bilang gini ke gw 'va, da motor ini teh ga ada rem depannya.....'

JDANGGG. Habislah itu sepanjang jalan gw babacaan. Alhamdulillah gada apa-apa kecuali si bos nyaris dijatuhi ular pohon--maklum site-nya di gunung-- dan seenggaknya tiga jam itu gw banyak dzikir :))

Tapi sesungguhnya, bukan itu yang bikin dua minggu ini seru.

Mungkin karena ketegangan yang meningkat luar biasa di kantor karena intensitas kerjaan yang gila-gilaan. Mungkin karena si bos dan temannya yang lagi cape. Mungkin karena gw sebagai satu-satunya perempuan di situ lagi PMS. Emosi naik menggila.

Puncaknya adalah hari Jumat yang baru saja lewat. Salah paham dan komunikasi yang buruk menyebabkan satu pekerjaan molor dari tenggat. Mengulang kerjaan akibat kendali yang terlampau longgar ---atau 'kepercayaan pada pekerjaan rekan' yang terlalu besar?--- dibumbui dengan aksi Tiffa yang marah-marah dan pundung berat, direaksikan oleh si bos dengan nyolot dan alis yang dinaikkan sebelah --tanda beliau sedang meragukan cara berpikir gw, dan si teman yang diabaikan oleh dua macan lagi berantem ini.

Gw pikir, ini akan lewat begitu saja seperti biasa, kantor akan jalan besoknya dengan suasana pundung-pundungan. Tapi ternyata engga, karena gw bicara langsung uneg-uneg gw hari itu. Maka masalah hari itu, selesai di hari itu. Si bos minta maaf, gw juga. Emang ngga langsung enak lagi sih besoknya, tapi hello, kami udah gede lah, dan perusahaan ini bergantung pada kedewasaan kami.

Begitulah, seru banget. At least buat gw, seru baaangggeeeettt.

Perusahaan ini, kantor ini, gw baru sadar kalo ini berhasil mengalihkan gw dari kepanikan tesis yang telah makin membuat gw menjauh dari tujuan gw sekolah lagi. Perusahaan ini, kantor ini, tanpa perlu memberi gw sesuap berlian dan segegenggam nasi sukses menjadi belahan jiwa gw yang baru. Setelah Monokrom, si buku pertama yang sempat jadi rumah buat gw pulang ketika suntuk TA, hilang ruhnya dan bahkan gw lupa caranya menulis puisi lagi. Setelah biola gw teronggok di kamar karena tangan gw makin tremor aja dari hari ke hari.

Hei, Bos. Dan kamu juga, Si Teman.
Semoga kalo kalian berdiri, gw juga berdiri. Kalo kalian jatuh, gw tolongin --jatuhnya sih sendiri aja sana, kikikiki-- Semoga ini jadi sumber keberkahan buat kita semua. Amiiiin.

Jumat, 06 November 2009

menemukan seseorang

i found someone.
what a fortune.
with exactly the same name as my name, and same interest in watercolor as mine, and D*mn, she had her own online gallery.

i never thought that there really is a coincidence like this, that you had someone, somewhere who shares yourself. really shares it. fiuh. thrilled me enough, this 'wow'ing hitsuzen...

i'll share it, her thumbnails of drawing she made from www.tiffa.com and compare it with mine. uuuhh she really made it better than me.

this is hers:i'm sorry i only can get the small thumbnail here.

and this is mine:
visit her website, her works are amazing. i really-really have to work and practice harder to get the same level as hers. wow. wow. wow. wow. i still feel amazed. @_@

Minggu, 18 Oktober 2009

The Butterfly-H.C. Andersen

THE BUTTERFLY www.aesopfables.com


THERE was once a butterfly who wished for a bride, and, as
may be supposed, he wanted to choose a very pretty one from
among the flowers. He glanced, with a very critical eye, at
all the flower-beds, and found that the flowers were seated
quietly and demurely on their stalks, just as maidens should
sit before they are engaged; but there was a great number of
them, and it appeared as if his search would become very
wearisome. The butterfly did not like to take too much
trouble, so he flew off on a visit to the daisies. The French
call this flower "Marguerite," and they say that the little
daisy can prophesy. Lovers pluck off the leaves, and as they
pluck each leaf, they ask a question about their lovers; thus:
"Does he or she love me?- Ardently? Distractedly? Very much? A
little? Not at all?" and so on. Every one speaks these words
in his own language. The butterfly came also to Marguerite to
inquire, but he did not pluck off her leaves; he pressed a
kiss on each of them, for he thought there was always more to
be done by kindness.

"Darling Marguerite daisy," he said to her, "you are the
wisest woman of all the flowers. Pray tell me which of the
flowers I shall choose for my wife. Which will be my bride?
When I know, I will fly directly to her, and propose."

But Marguerite did not answer him; she was offended that
he should call her a woman when she was only a girl; and there
is a great difference. He asked her a second time, and then a
third; but she remained dumb, and answered not a word. Then he
would wait no longer, but flew away, to commence his wooing at
once. It was in the early spring, when the crocus and the
snowdrop were in full bloom.

"They are very pretty," thought the butterfly; "charming
little lasses; but they are rather formal."

Then, as the young lads often do, he looked out for the
elder girls. He next flew to the anemones; these were rather
sour to his taste. The violet, a little too sentimental. The
lime-blossoms, too small, and besides, there was such a large
family of them. The apple-blossoms, though they looked like
roses, bloomed to-day, but might fall off to-morrow, with the
first wind that blew; and he thought that a marriage with one
of them might last too short a time. The pea-blossom pleased
him most of all; she was white and red, graceful and slender,
and belonged to those domestic maidens who have a pretty
appearance, and can yet be useful in the kitchen. He was just
about to make her an offer, when, close by the maiden, he saw
a pod, with a withered flower hanging at the end.

"Who is that?" he asked.

"That is my sister," replied the pea-blossom.

"Oh, indeed; and you will be like her some day," said he;
and he flew away directly, for he felt quite shocked.

A honeysuckle hung forth from the hedge, in full bloom;
but there were so many girls like her, with long faces and
sallow complexions. No; he did not like her. But which one did
he like?

Spring went by, and summer drew towards its close; autumn
came; but he had not decided. The flowers now appeared in
their most gorgeous robes, but all in vain; they had not the
fresh, fragrant air of youth. For the heart asks for
fragrance, even when it is no longer young; and there is very
little of that to be found in the dahlias or the dry
chrysanthemums; therefore the butterfly turned to the mint on
the ground. You know, this plant has no blossom; but it is
sweetness all over,- full of fragrance from head to foot, with
the scent of a flower in every leaf.

"I will take her," said the butterfly; and he made her an
offer. But the mint stood silent and stiff, as she listened to
him. At last she said,-

"Friendship, if you please; nothing more. I am old, and
you are old, but we may live for each other just the same; as
to marrying- no; don't let us appear ridiculous at our age."

And so it happened that the butterfly got no wife at all.
He had been too long choosing, which is always a bad plan. And
the butterfly became what is called an old bachelor.

It was late in the autumn, with rainy and cloudy weather.
The cold wind blew over the bowed backs of the willows, so
that they creaked again. It was not the weather for flying
about in summer clothes; but fortunately the butterfly was not
out in it. He had got a shelter by chance. It was in a room
heated by a stove, and as warm as summer. He could exist here,
he said, well enough.

"But it is not enough merely to exist," said he, "I need
freedom, sunshine, and a little flower for a companion."

Then he flew against the window-pane, and was seen and
admired by those in the room, who caught him, and stuck him on
a pin, in a box of curiosities. They could not do more for
him.

"Now I am perched on a stalk, like the flowers," said the
butterfly. "It is not very pleasant, certainly; I should
imagine it is something like being married; for here I am
stuck fast." And with this thought he consoled himself a
little.

"That seems very poor consolation," said one of the plants
in the room, that grew in a pot.

"Ah," thought the butterfly, "one can't very well trust
these plants in pots; they have too much to do with mankind."


THE END

Jumat, 16 Oktober 2009

miyabi miyabi miyabi

doh.
gara2 ribut2 begini anak2 SD jadi pada tau Miyabi.
gara2 banyak demo Miyabinya jadi --tambah-- terkenal.

itu yang demo2 pada waspada soal publicity stunt ga sih? --ada cara demo lain gak ya? yang ngga pake ribut2 sampe heboh kemana2 gitu?--

hah. gw mah mending ngeributin wasabi atau miyazaki aja deh. jelas2 bisa dimakan.

Minggu, 11 Oktober 2009

meninggalkan sneakers tersayang

Sneakers are things that keep me on earth.
Seriously.

Belakangan gw sering mikir lama2 sambil memandangi sneakers kesayangan gw, kapankah tiba waktunya gw untuk mengucapkan selamat tinggal pada mereka? Oh, ngga selebay itu, sayang. cuma yaaah, begitulah. Tampaknya umur emang ga bisa dibohongi --embeeerrr---

Gw semakin tua, itu benar. Umur gw yang udah ngga ABG ini juga kadang menuntut gw untuk berpenampilan layaknya perempuan2 seumur gw. Ah, apa sih emangnya penampilan seumur gw? Gw jadi bingung sendiri ketika nyokap gw dengan girangnya bersorak " Naahh gitu doonng" ketika gw memutuskan beli lipstik. Man! Segitunya yaaaaaa....

Perubahan itu normal kan. Begitu kira2 gw meyakinkan diri sendiri. Melihat teman2 sebaya yang mulai datang ke acara2 reuni dengan gaya yang berubah. Beberapa mulai sophisticated, dengan clutch bag cantik dan kalung berkilau. Beberapa yang gw kenal sebagai tomboy mulai centil dateng ketemuan dengan wedges shoes. Yang lain tiba2 muncul dengan gincu.

Gw bukannya ngga pernah gitu juga. Sekali2 dandan lah, sekedar menyenangkan diri sendiri --duh, cewek emang gitu ya? --

Dan gw pun berpikir, teman2 gw berubah, karena lingkungannya menuntut mereka berubah mungkin ya. Ngga mungkin juga yang kerja jd CS di sebuah bank akan ngantor dengan Kappa bolong2. Sementara kantor gw, bosnya aja dateng dengan sendal jepit. Ngga mungkin juga yang ngantor di Sudirman dengan kubikel berpendingin udara dan janjian ketemu klien yang canggih akan berdandan polos tanpa make up dan pake kaos oblong bertuliskan " parttime rocker " buat ngjelasin analisis kredit. Sementara lingkungan gw: kantor gw isinya sahabat gw sejak jaman jebot yang udah tau belang2nya gw, gw bukan client approacher, ngga ber-AC, ngga perlu juga ketemu klien, kuliah magister gw masih di tempat yang sama, dosen gw masih itu2 aja....

Aih, jadi sentimentil.

Sneakers buluk gw adalah sisa2 independensi gw sebagai cewe bandel yang hobi berontak sama banyak hal. Sneakers gw adalah benda yang nemenin gw untuk keliling Balubur untuk survey buat acara bareng anak jalanan, yang nemenin gw jalan dari Dago sampe Merdeka sambil nyebarin pamflet panas2an. Sneakers gw adalah benda yang nemenin gw backpacking keliling Spanyol. Sneakers gw adalah benda yang nemenin gw manggung, yang nemenin gw lari2 ngejar angkot di Sarijadi waktu ngambil gambar. Sneakers gw adalah sneaker yang sama yang dipake sama anak2 alay pencari jatidiri, anak2 yang ngga punya komunitas, nongkrong2 di pinggir jalan gada kerjaan, yang dipake sama anak2 indie yang lagi berjuang sama komunitas kreatif di Bandung. Sneakers gw adalah sneaker murah meriah yang membuat gw tetep bisa berjalan dengan nyaman di sini tanpa khawatir lecet2. Sneakers gw adalah gw.

Gw telat 'dewasa'? Gw ngga sesadar ade gw akan aset yg bisa dimanipulasi untuk memikat para kumbang? Gw ngga sadar kode untuk berpenampilan menarik? Gw ABG telat gede?

Semua karena gw ngga jalan2 pake clutch dan milih pake ransel? Karena gw menolak pake bedak buat jalan keluar nonton dan milih untuk cuma bersunblock? Karena gw lebih suka pake kaos oblong dan sneaker daripada sepatu cantik? Karena gw keliatan cupu di depan calon klien, keliatan kaya mahasiswa baru lulus yang bego dan ngga bisa ngomong apa2? Karena gw keliatan kaya orang yg menyangkal umur sendiri? --aih gitu bgt...-- Lah, kalo gw nyamannya begini trus gmn dong? Masih pengen pake kaos "parttime rocker" gw nih. Masih pengen ngegembel. Masih pengen slengean nongkrong di deket2 tempat kumpul mahasiswa2 polontong yang idealis2 itu. Masih pengen ditanya "mau pesen apa, dek?". haaaaa....

Mungkin, memang akan ada waktunya gw untuk mengucapkan 'dadah' sama Converse, Sketchers, Kappa, Chipies, dan RTC Warrior.

Akan ada waktunya gw untuk jalan pake flat shoe berpita atau sepatu hak tinggi.

Akan ada waktunya gw untuk juga bisa seperti temen2 gw yang sekarang cantik2 luar biasa.

Akan datang saatnya ketika gw akan berjalan bersama seseorang yang gw pikir akan berkata "Sayang, setelan kebayanya kayanya ngga matching sama sepatu kamu ya...." Ih, andaikan dia setuju di resepsinya gw boleh pake sneakers.....

Sampe saat itu dateng, gw masih akan terus make sepatu buluk gw tersayang. Sampe ancur, sampe jelek, sampe bopak.

VIVA SNEAKERS!!

Minggu, 27 September 2009

parcel dan KKN

hola! selamat lebaran temans!
eh iya sebelum muali ngomel2, gw mo ngucapi dulu taqobalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum minal aidin wal faidzin, taqobal ya kariim.. mohon maaf lahir batin ya kawans, semoga Ramadhan kemarin bener2 jadi ajang tempaan yang berbekas untuk perbaikan kualitas diri kita semua :)

berkaitan dengan lebaran, ada hal yang sekarang hilang dari kebiasaan lebaran gw dan keluarga : bongkar parcel.

well, bokap gw bukan PNS sih, bukan pula pejabat teras perusahaan swasta yang patut dikirimin parcel di setiap lebaran. kebiasaan bongkar parcel ini biasanya gw dan adik2 gw lakukan bareng kakak2 sepupu gw yang tiap tahun rumahnya kebanjiran parcel sampe berpuluh2.

itu bertahun2 lalu, waktu gw masi abege dan kakak2 sepupu gw belom pada punya buntut. walaupun begitu, keriaan itu masih gw inget banget. bayangin, gw punya dua orang uwak, dua2nya sangat murah hati ngebagi2in parcel yg tiba ke rumahnya buat pasukan gw dan adik2 yang hobi banget ngemil ini. dari sekian puluh parcel, kita boleh pilih masing2 satu buat dibongkar. biasanya kita milih yang dalemnya ada inceran kitanya. kalo gw, suka banget sama coklat cadbury yang dikalengin itu. ade gw yang pertama biasanya ngincer Taro ukuran super gede, ade gw yang selanjutnya biasanya ngincer apapun yg diincer kakak2nya, dan ade yang buntut, dulu masih bayi, dia cukup dihebohkan dengan pita2 dan kertas krep yang betebaran kemana2. nyokap gw kebagian juga, biasanya parcel yang ada cangkirnya. haha. selepasnya dari prosesi mutilasi paket parcel itu, kita sekeluarga biasanya dikasi hasil mutilasi2 sebelumnya kayak nutrisari dua dus, happy tos, cadbury --knp ya, coklat satu ini keren banget kalo dipaketin, berasa 'wah' gitu--, koko krunch, corn flakes, Milo kotakan, sirup2 berbagai merek, permen aspal --ini apa ya mereknya, liquor2 gitu loh, yang anget2 pedes warnanya item, kalo digigit nempel semua di gigi--,dan yang paling bikin kita hura-hura adalah sekotak Fererro Rocher legendaris itu --yang gw suka banget dan ampe hari ini bikin gw selalu mikir beribu kali buat beli coklat itu, mahal cing.--

setelah uwak gw yang satu meninggal dunia dan yang satunya pensiun dini dari perusahaannya, parcel2 itu mulai jarang datang ke rumah kakak2 sepupu gw. maka prosesi bongkar parcel dan 'beberes badag' itu pun tamatlah.

lalu kemaren gw tiba2 teringat, soal dilarangnya kirim parcel kepada pejabat berkaitan dengan lengketnya aroma sogok2an di dalam acara kirim-mengirim parcel itu. dulu, gw ga pernah kepikiran bahwa parcel adalah ajang sogok-menyogok. gw cuma tau, kalo Aa udah nelpon, artinya gw dapet coklat sekaleng gede.

gw pikir sih, menurut pengalaman gw, ngirim parcel lebaran macam itu kepada pejabat dengan maksud menyogok mah ga ada gunanya deh. maksud gw, itu cuma parcel loh, kalo dikirim dan diterima, paling dibaca kartunya dan selesai urusannya sampai disana. ini sepenglihatan gw ya. gatau emang uwak gw orang jujur dan ga ambil pusing sama sogokan kecil macam itu, gatau emang gw nya naif dan ngga berpikir sampai kesana. --dan gatau juga efeknya kalo parcel yang dikirim dalemnya amplop berisi cek ratusan juta--

dulu, akibat keseringan ngeliat parcel, gw ampe pernah jadi pengusaha parcel kecil2an pas jaman SMA. gw nerima jasa ngebungkusin dan menghias bungkus coklat valentine buat temen2 yang kasmaran. walaupun gw ga ngerayain valentine gw anggap aja itu rejeki buat usaha gw. gw juga beli coklat dari kakak sepupu gw yang suka bikin coklat sendiri dan gw bikin jadi paket kecil2 trus gw jualin dengan hiasan yang gw kumpulin dari hasil mutilasi parcel di lebaran sebelumnya.

tapi apa bener ah, segitunya bahwa gara2 ngirim parcel trus seseorang bisa langsung dituduh KKN? siapa tau emang cuma pengen ngirim aja. siapa tau karena cuma sopan santun karena lagi lebaran, atau siapa tau lagi mendukung usaha sodaranya yang jualan parcel. lagian diurusin banget sih masalah ginian. gw beneran bertanya2 jadinya, tentunya dengan segala kelemotan gw, parcel seperti apa yang diributin --dulu-- di DPR sana sampe bisa jadi kategori korupsi kalo nerima 'parcel' itu. parcelnya Mercedes seri baru sih ya? ah apa juga, kalo emang niatnya yang ga bener sih, jangankan parcel, tisu juga bisa jadi KKN.

hmmm. parcel kecil itu ternyata berkah loh buat anak kampung kaya gw yang jarang dapet jajanan2 mahal. berkah juga buat kami sekeluarga besar karena seru banget itu kalo lagi kumpul bongkar2. dan buat semua pasukan pendukung kegiatan rumah tangga juga, mereka kebagian masing2 satu, dikirimnya lah barang yg cukup mahal bagi mereka itu ke kampung masing2. bahagia deh semuanya. ya mungkin ini cuma sampel yang random dan ngga valid buat menyatakan bahwa parcel itu barang yang berkah, tapi ada lah positifnya untuk saling berkirim parcel.

kalo gw ngirim parcel ke dosen gw, beliau bakal nganggap gw lagi minta diundurin tesis gak yah? :D